Darah Menstruasi Bukan Makanan Setan

First slide

9 Maret 2026

Oleh: Dewi Raudlatul Jannah

Sejak kecil, banyak anak perempuan menerima nasihat dari orang tua tentang menstruasi, mulai dari perubahan tubuh, aturan agama, perilaku sosial, hingga cara membersihkan darah haid. Namun, penjelasan tersebut sering kali disampaikan melalui mitos yang menakutkan. Misalnya, anak perempuan diingatkan untuk segera membersihkan darah menstruasi karena jika tidak, darah tersebut konon akan dimakan oleh setan.

“Bersihkan darahmu, nanti bisa dimakan setan!”

Tabu menstruasi

Di dalam lingkungan sosial dan pengetahuan yang terbatas, darah menstruasi adalah darah kotor. Masyarakat percaya perempuan yang sedang menstruasi akan selalu berdekatan dengan jin atau setan. Katanya, darah menstruasi itu makanan mereka. Seorang perempuan harus selalu mencuci bersih darah menstruasi dan bahkan harus marapalkan doa-doa agar darahnya tidak menjadi makanan setan.

Padahal tidak pernah ada ajaran agama (apapun) yang menyebutkan bahwa jin atau setan memakan darah menstruasi perempuan. Namun kepercayaan terhadap tabu ini selalu ada dan menguat seolah-olah itu adalah perintah agama dan setiap perempuan harus mengikutinya.

Tabu menstruasi menimbulkan ketakutan dan kesalahan basis konseptual terhadap tubuh dan pengalaman perempuan.

Saat menstruasi pertama, perempuan sangat perlu mengenal tubuhnya. Apa yang sedang terjadi? Dan bagaimana menyikapinya sehingga ketakutan dan perasaan janggal lain tidak menghantui pikiran.

Menstruasi yang tidak dikelola dengan baik dan sistem sosial budaya yang mendukung hal-hal tabu akan menyebabkan ketidaknyamanan, masalah sosial, ketidakhadiran partisipasi perempuan, dan masalah kesehatan seksual serta reproduksi.

Penelitian yang dilakukan UNICEF di Indonesia dengan 1.402 responden menyebutkan bahwa remaja di Indonesia tidak cukup memiliki pengetahuan tentang menstruasi dan manajemen kesehatan menstruasi. Hal itu mengakibatkan menstruasi tidak memiliki ruang aman dan pengalaman biologis perempuan yang diabaikan.

Penelitian UNICEF tahun 2018 juga menunjukkan fakta bahwa ada rasa malu yang disertai takut, suatu rasa yang aneh saat mengalami menstruasi. Hal ini akan berdampak buruk pada hak asasi dan menyebabkan diskriminasi.

Anatomi organ reproduksi perempuan

Tubuh biologis perempuan berbeda dengan tubuh biologis laki-laki dalam menjalankan fungsi kehidupan. Perempuan secara kodrati memiliki rahim yang karenanya mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui dan mengalami nifas setelah melahirkan.

Dalam buku “Manajemen Kesehatan Menstruasi” dijelaskan bahwa perempuan memiliki dua organ reproduksi yaitu organ genitalia internal dan genitalia eksternal. Genital internal mencakup ovarium, tuba fallopii, uterus dan vagina sedangkan genitalia eksternal mencakup mons veneris, labia mayora, labia minora, vestibulum dan selaput dara.

Menstruasi adalah pendarahan periodik dari rahim yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus (Bobak, 2004).

Menstruasi bukan darah kotor dan bukan darah penyakit. Darah yang keluar sekitar 30 sampai 100 mL saat menstrusi tidak dikatakan kelainan atau penyakit secara medis. Kondisi ini terjadi karena tidak ada pembuahan sel telur oleh sperma sehingga lapisan dinding rahim yang menebal menjadi luruh. 

Darahku menyimpan pengalaman

Darah perempuan seringkali dibuat untuk menuntut, merendahkan dan menyalahkan. Darah yang tidak keluar setelah pernikahan akan membuat perempuan dihujani kata-kata penghinaan dan hukuman.

Sejatinya, darah perempuan menyimpan pengalaman ketubuhan, pengalaman yang harus didengarkan, diterima, dan dibiarkan berbicara. Tidak ada dosa atas nama agama dan sosial karena pengalaman biologis perempuan.

Darah menstruasi bukan darah yang dekat dengan setan, bukan makanannya jin, bukan darah kotor, bukan darah yang menjijikan, dan tidak harus disembunyikan. []

Share to :