Oleh: Dewi Raudlatul Jannah
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, jika kita membuka buku-buku biografi tentang perjalanan hidup para penemu dan pemikir besar, kita akan lebih sering menemukan nama laki-laki dibandingkan perempuan. Mengapa demikian? Apakah memang laki-laki lebih unggul dalam berpikir dan mencipta?
Pertanyaan ini membawa kita pada realitas sejarah yang tidak selalu adil. Selama berabad-abad, ruang akademik lebih terbuka bagi laki-laki. Mereka memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan formal, kebebasan menyusun teori, serta kesempatan berbicara di ruang publik untuk menyampaikan gagasan.
Sebaliknya, banyak perempuan dibatasi oleh norma sosial dan struktur budaya yang menempatkan mereka di ranah domestik. Akses pendidikan dibatasi, partisipasi dalam forum ilmiah dihalangi, bahkan karya mereka kerap diabaikan atau diakui atas nama laki-laki di sekitarnya.
Membicarakan Sigmund Freud
Beberapa hari lalu ketika penulis membaca teori Sigmund Freud, semacam renungan muncul menghantui pikiran. Bagaimana Freud meneliti perempuan sedangkan perempuan tidak memiliki hak bersuara saat itu? Bagaimana pendangannya diucapkan dalam forum-forum besar sedang perempuan tidak merasakan itu?
Setiap tulisannya akan selalu memunculkan dominasi, super power laki-laki, dan memosisikan perempuan sebagai jenis kelamin yang rendah. Julukan Sang Pemikir Revolusioner, Bapak Psikologi, atau tokoh psikoanalisis termasyhur didapatkannya dengan mengesampingkan peran dan keberadaan perempuan.
Meminjam istilah Clara Thompson, perempuan tidak diberikan tempat untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri. Pandangan yang disebarkan Freud adalah penderitaan untuk perempuan yang tak pernah putus.
Jika kita melihat sejarah kemunculan teorinya, perempuan akan selalu dirugikan, tidak mendapatkan tempat yang setara, dan dikesampingkan keberadaannya. Tokoh-tokoh perempuan sudah muncul dan memberikan pengaruh, misalnya Simone de Beauvoir, Sabina Spilrein, Clara Thompson, Clara Zetkin, dan Elisabeth Young-Bruehl. Namun dalam dunia akademik khususnya bidang psikologi tokoh yang dikenang sebagai revolusioner hanyalah Sigmund Freud. Perempuan dianggap gila dan pemikirannya tidak sama dengan pemikiran laki-laki.
Psike perempuan dalam pandangan Freud
Teori Freud mengundang kemarahan feminis. Menurut Freud, perempuan mengidap neurotik yaitu gangguan mental dan ketidakstabilan emosi yang tidak bisa sembuh meskipun terapi. Penyakit gangguan mental dialami perempuan karena “sudah dari sananya” perempuan itu neurotik.
Freud juga bicara bahwa perempuan yang normal adalah perempuan pasif, kepasifan adalah feminitas sejati.
Pandangan Freud tentang kepasifan ini sangat merugikan posisi perempuan dalam pengambilan kebijakan, menyampaikan pendapat, dan partisipasi politik. Hanya laki-laki yang diberikan ruang dalam wilayah publik dan politik, sebab perempuan lemah dan hanya pantas di rumah.
Pengaturan sifat pasif milik perempuan dan sifat aktif milik laki-laki adalah wajah bahwa perempuan dalam teorinya dijadikan makhluk kelas kedua. Padahal hak untuk bersuara, hak untuk berpolitik, dan hak untuk mengambil peran adalah hak semua manusia, hak semua jenis kelamin.
Teori Freud sungguh memosisikan perempuan sebagai jenis kelamin yang diam dan tidak bergerak. Menurut Freud, perempuan akan mengalami kekosongan dan selalu fokus terhadap bentuk tubuhnya agar menarik dilihat, dan menjadi objek penampilan.
Clara Thompson, perempuan revolusioner yang sezaman dengan Freud menyatakan bahwa semua manusia, laki-laki dan perempuan akan lahir dalam keadaan yang tidak berdaya dan berjuang untuk keluar dari ketidakberdayaannya. Namun kepada perempuan sistem sosial dipenuhi praktik marginalisasi, stereotipe, dan diskriminasi.
Patriarki dalam pikiran
Pandangan Freud tentang perkembangan psikis perempuan yang seksis dan negatif terhadap perempuan menandai bahwa ia adalah seorang yang hidup dari nilai-nilai patriarkal. Feminis mengecam Freud dan menjulukinya Kepala Klub Patriarki karena ia melanggengkan ide partriarki bahwa perempuan adalah makhluk yang inferior, lemah, tidak berkembang, hidup dalam dunia domestik karena perempuan sejati adalah perempuan pasif, yang menerima tanpa peran apapun.
Menurutnya, perempuan adalah makhluk yang tidak normal dan aneh, akan selalu ada yang kurang dalam diri perempuan. Sedangkan laki-laki adalah makhluk yang sempurna, tidak kurang suatu apa pun.
Menurut Simone de Beauvoir, Freud melihat diri perempuan sebagai “yang lain”, makhluk kedua. Elisabeth Young-Bruehl, perempuan asal Amerika Serikat menyebut Freud sebagai misoginis dan harus mengubah semua teorinya dengan melibatkan perempuan.
Budaya yang mengidealkan bahwa posisi dan peran perempuan adalah di dalam rumah, menjadi ibu, menjadi istri yang tubuhnya tersedia saat diinginkan membentuk pola berpikir masyarakat hingga saat ini. Kesalahan yang dibuat Freud adalah kesalahan metodologis, beberapa teorinya bahkan tidak pernah memiliki fakta.
Penutup
Freud tidak benar-benar mendefinisikan perempuan. Ia hanya mengkaji tanpa melibatkan, membuat teori tanpa mendalami. Semua lingkup akademik harus berhati-hati dalam menggunakan teori Freud sehingga tidak ada teori yang melanggengkan paham patriarki.
Teori harus lahir dengan adil gender, melibatkan dan membuka akses untuk semua jenis kelamin, membuka ruang pengalaman perempuan, sebab tubuh dan pengalaman perempuan harus dijelaskan oleh pemiliknya.
Pandangan yang disampaikan Freud tentang perempuan dipengaruhi nilai patriarkal yang tumbuh subur dan kuat di dalam lingkungan sosial. Menurut Luce Irigay (1974), Freud mengabaikan faktor sosial dan budaya dalam melahirkan teori perkembangan manusia, dan ia tidak menyukai jika feminis menentang teorinya. []