Laporan: Mahirotus Shofa
Banyaknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di berbagai lingkungan, termasuk di pesantren, menjadi keresahan tersendiri bagi mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) yang sedang menjalani Praktik Lapangan Profesi (PLP) di lingkungan pondok pesantren.
Menanggapi isu tersebut, mahasiswa ISIF berkolaborasi dengan Umah Ramah mengadakan Seminar Anti Bullying (perundungan) pada Rabu, 04 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh santri putra dan putri Pondok Pesantren Bina Insan Qur’ani.
Dalam sambutannya, perwakilan pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Qur’ani, M. Ainun Rofiq, menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk menyadarkan kembali para santri bahwa setiap agama, termasuk ajaran Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang kepada sesama. Hal tersebut tercermin dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis yang secara tegas melarang perbuatan zalim terhadap orang lain.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti nilai kearifan lokal sebagai landasan penting dalam pencegahan perundungan.
“Jika kita berkaca pada budaya lokal, terdapat filosofi silih asih, silih asah, dan silih asuh. Nilai-nilai tersebut memiliki kerangka yang sangat kuat dan dapat diterapkan dalam upaya mencegah bullying,” ujarnya.
Hal tersebut sejalan dengan pemaparan pendiri Umah Ramah, Asih, selaku pemateri, yang mengajak para santri untuk merefleksikan perilaku sehari-hari yang kerap dianggap wajar. Ia menekankan bahwa banyak tindakan yang telah dinormalisasi dalam keseharian, padahal tanpa disadari dapat termasuk dalam bentuk perundungan.
“Hari ini kita belajar bersama tentang hal-hal yang sering dianggap biasa, hingga kita lupa bahwa kita juga bisa menjadi bagian dari perilaku tersebut,” ungkapnya.
Asih menegaskan kepada para santri bahwa ajaran Islam secara tegas melarang segala bentuk kerusakan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Ia menyampaikan bahwa tindakan perundungan, dalam bentuk apa pun, pada hakikatnya merupakan bentuk penghinaan terhadap ciptaan Tuhan.
Lebih lanjut, Asih mengingatkan bahwa perilaku yang kerap dianggap sebagai guyonan, seperti mengejek, mengolok-olok, mengintip, hingga memusuhi sesama teman, sering kali dilakukan seolah-olah seseorang memiliki hak untuk melakukannya. Padahal, Islam justru mengajarkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
“Kita itu disuruh untuk apa, berlomba-lomba untuk sesuatu yang baik, bukan berlomba-lomba untuk mengejek temannya, bukan berlomba-lomba untuk memukul temannya, bukan berlomba-lomba memusuhi temannya, bukan?,” tegasnya.
Materi dilanjutkan dengan pemaparan bentuk-bentuk perundungan, dampak-dampak, serta apa yang bisa dilakukan saat seseorang mengalami perundungan atau melihat orang lain yang dirundung.
Selanjutnya, kegiatan seminar diakhiri dengan antusiasme para santri yang mengajukan berbagai pertanyaan terkait dengan perundungan, mulai dari bagaimana memutus mata rantai perundungan hingga cara memulihkan trauma akibat dari perundungan.
Menanggapi hal tersebut, pemateri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan sekaligus penyampaian rasa terima kasih kepada para santri yang berani bertanya dan berbicara atas keresahan serta ketidaknyamanan yang dirasakan atas apa yang sudah dialami.
Disampaikan pula harapan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk belajar mengubah perilaku yang menyakiti orang lain, sehingga setelahnya para santri dapat saling menyadari, berefleksi, dan menjadikan pesantren sebagai ruang aman dan nyaman bagi semua. []