Oleh: Khawakibb
Media sosial akhir-akhir ini sedang ramai oleh pemberitaan figur publik yang baru saja meluncurkan novel berdasar kisah nyata dirinya, Broken Strings. Dalam buku itu, Aurélie Moeremans, seorang aktris ternama di tanah air, menceritakan masa lalunya yang sangat sulit dan menyakitkan.
Aurelie tidak sungkan membagi kisahnya dengan jujur. Semua kejadian traumatis dia tuliskan seolah mudah saja. Tapi sebagai pembaca saya yakin betul jika ia tidak benar-benar mudah merajut naskahnya.
Novel itu dia bagikan secara cuma-cuma di media sosial. Tujuan membagikan kisah itu untuk mengurai beban trauma yang ia pikul selama bertahun-tahun. Namun ia tidak menyangka jika tulisannya justru lebih dari sekedar mengurai. Banyak orang-orang mengirim pesan kepadanya karena merasa terbantu dan merasa ditemani oleh kisah yang ia tulis.
Ada orang tua yang merasa tersadarkan harus lebih peka dan responsif kepada buah hatinya. Ada seorang guru yang merasa harus membagikan kisah itu kepada peserta didik agar dijadikan pelajaran. Ada penyintas yang memiliki pengalaman serupa dan merasa tak lagi sendirian.
Apa yang dilakukan Aurelie sebenarnya bukan hal baru. Sudah banyak yang melakukan jalan ini sebagai usaha membebaskan diri dari belenggu. Tulisan-tulisan jujur seperti kisah Aurelie bisa kita baca dan temukan di berbagai media.
Beberapa waktu lalu juga Umah Ramah menerbitkan antalogi tulisan berjudul “Tabu Membuat Buta” yang kurang lebih isinya memuat beberapa kisah serupa Aurelie dan esai pendek tentang seksualitas. Ada juga buku yang lumayan fenomenal karya Ester Pandiangan dengan judul cukup provokatif seperti “ Sebab Kita Gila Seks”, “Maaf, Orgasme Bukan Hnya Urusan Kelamin, “Seks Kita Memang Perlu Dibantu”. Buku-buku tersebut juga memuat beberapa kisah pengalaman seksualitas yang cukup traumatis meski tak se-booming Broken Strings.
Novel yang ditulis Aurelie viral menjadi sebuah perbincangan hangat. Sejauh ini respon pembaca sangat positif dan memberi dukungan kepadanya. Meski angka kekerasan seksual di Indonesia sulit ditekan, setidaknya kini isu seksulitas perlahan-lahan sudah tidak dianggap tabu lagi. Bukti nyatanya adalah respon para netizen yang tak lagi menyudutkan seseorang ketika ia mencoba membagi pengalaman sensitifnya.
Mungkin masyarakat sudah lebih sadar jika kekerasan seksual bukanlah sebuah aib yang mana jika diungkapkan akan terhina. Kesadaran untuk berdiri di samping korban kini mulai terbangun. Semua itu adalah angin segar untuk gerakan edukasi seksualitas di tengah masyarakat kita.
Apa yang dialami Aurelie mungkin bukan satu-satunya, masih banyak orang-orang yang bernasib sama sepertinya yang masih memendam dalam gelap dan sunyi. Tapi saat tulisan hadir dengan begitu jujur, kegelapan itu barangkali menemukan terangnya.
Orang-orang merasa ditemani dan dipeluk oleh Aurelie dari jauh. Hal ini yang saya rasakan ketika membaca kisahnya. Meski pada mulanya saya cukup terserang migrain saat membaca bab-bab awal tapi kemudian ada perasaan lega yang muncul setelah membaca seluruh cerita.
Beberapa tahun lalu saya pernah terjebak relasi tidak sehat dengan mantan pacar yang memiliki usia terpaut jauh dengan saya. Aurelie mengisahkan, grooming terjadi saat usianya baru 15 tahun. Saya menangkap satu pola khas dari grooming, yakni rasa “hutang budi”. Perasaan itu terus menerus ditanam oleh mantan pacar secara halus melalui perhatian dan ketergantungan emosional. Hingga sampai pada titik puncak, dia meminta untuk dipuaskan hasrat seksualnya.
Grooming bukan lagi kasus baru dalam kekerasan seksual. Meski masih sedikit orang yang sadar dan mau berbagi kisah. Dengan booming-nya kisah Aurelie semoga bisa menjadi contoh dan bisa memicu pembiasaan untuk berbagi kisah traumatis. Kisah pilu bukanlah hal yang memalukan apalagi dianggap tabu, menjijikan, dan harus dihindari.
Dalam kisahnya, Aurelie merasa kesulitan meminta bantuan karena dirinya selalu dibayangi rasa takut, malu dan bersalah diri yang besar. Padahal saat itu ia sangat benar-benar membutuhkan pertolongan. Dengan tidak menyudutkan dan memberi stigma pada cerita korban itu adalah langkah awal untuk bisa menyelamatkan dari kubangan kekerasan. Dan terbukti, ketika keberanian Aurelie untuk kejujurannya disambut dukungan simpati di situlah bias mulai tersingkap.
Kekerasan seksual berakar dari adanya ketimpangan relasi kuasa, dan grooming adalah salah satu bentuknya. Grooming tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi dbentuk dengan sebuah pola yang sistematis melalui pendekatan-pendekatan yang membuat seseorang ketergantungan. Saat rasa bergantung itu tumbuh palaku akan dengan leluasa menuntut sesuatu atas nama imbalan kebaikannya, dan saat itu pula korban akan merasa kebingungan dan tertekan.
Dalam kondisi kerentanan korban, pelaku akan melakukan kontrol dengan ancaman-ancaman. Buku “Memahami Kekerasan Seksual Lebih Dalam” yang ditulis dan diterbitkan Umah Ramah menjelaskan jika grooming-seksual adalah pengkondisian yang dilakukan pelaku, biasanya orang terdekat, kepada anak dan lingkungannys untuk melakukan kekerasan seksual terhadap anak tersebut.
Dalam buku itu pula disebutkan ciri mencolok dalam proseses grooming-seksual yakni terjadinya seksualisasi pada anak, di mana seksualitas anak termasuk perasaaan seksual, sesualitas dan sikap seksual “dibentuk” dengan cara yang tidak sesuai dengan perkembangannya.
Terakhir, dengan terus menghidupkan isu-isu sensitif dan membuat segalanya lumrah dibahas adalah sebuah jalan yang mungkin bisa meruntuhkan tembok ketabuan tentang edukasi seksualitas di negara ini. Sehingga semakin banyak orang sadar dan bisa membangun ruang aman untuk dirinya maupun orang lain. []
Baca juga: Waspada! Pelaku Kekerasan Seksual Adalah Orang Terdekat